SEBAGAI lelaki normal, aku sangat mengaguminya. Selain berparas ayu, dia
hampir memiliki segala kelebihan yang memang sangat patut dikagumi,
terutama oleh para lelaki yang mendambakan kenikmatan cinta yang sejati.
Kalau
bicara, tutur katanya halus, lembut, dan indah. Dia hampir tak pernah
sekali pun merajuk sebagaimana umumnya gadis-gadis sebayanya. Dia juga
tak pernah bermanja-manja kepada siapa saja. Dia pun tak pernah
mengumbar emosinya sehingga uring-uringan, marah, memaki, mengumpat,
menghina, mencela, dan sebagainya sama sekali tak pernah dia lakukan.
Dan, dia juga selalu “on” untuk diajak berbicara tentang apa saja. Dia
memang nyaris sempurna sebagai seorang manusia, sebagai seorang gadis,
sebagai seorang anak, sebagai seorang sahabat, dan sebagainya. Masya
Allah!!!
“Aku sangat mengagumimu dan mencintaimu. Lahir dan
batin. Jasmani dan rohani. Hidup dan mati. Dalam suka maupun duka,”
kataku berterus terang, dalam suatu kesempatan tatap muka dengannya.
“Cinta
yang keberapa yang kamu berikan kepadaku?” tanyanya, sambil
menyunggingkan sebuah senyum yang amat manis.
“Tentu saja, cinta
yang pertama sekaligus terakhir. Cinta yang utama dan segala-galanya.
Setitik pun tidak ada cinta yang tertinggal, semua kupersembahkan hanya
kepadamu,” jawabku, dengan intonasi serta mimik sangat serius.
“Ah,
jangan begitu! Aku justru tidak mau kalau cinta pertama itu kamu
berikan kepadaku, apalagi hanya kepadaku. Juga, aku tidak mau kalau kamu
menyerahkan segala-galanya kepadaku. Sekali lagi, aku tidak mau cinta
seperti itu,” jawabnya, mantap.
“Maksudmu?”
“Kamu harus tetap
realistis. Kamu harus tetap menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan
menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang sebenarnya. Kamu tidak boleh
fasik!” tuturnya, lembut namun menyentuh relung hatiku yang terdalam.
“Artinya?”
“Ya,
aku hanya manusia biasa yang tak lepas dari cela. Aku bukan manusia
sempurna, bahkan, mungkin, sangat jauh dari sempurna. Kalau pun manusia
sempurna, aku masih juga belum berhak dan pantas menerima cinta pertama
dari siapa pun. Juga penyerahan atas segalanya dari siapa saja, aku tak
berhak menerima, dan karena itu aku wajib menolaknya,” jelasnya.
“Lalu…lalu…lalu…?”
“Ya
sudah, titik. Tidak boleh lalu, lalu.”
“Aku masih belum paham
maksudmu.”
“Belum paham atau tak mau paham?”
Aku diam. Namun,
hatiku bergejolak. Aku penasaran. Ingin rasanya segera mendapatkan
jawaban yang melegakan dari dia.
“Kamu orang beragama kan?”
tanyanya, menyengat hatiku.
“Ya, tentu!”, jawabku dengan nada agak
tinggi, namun masih dalam kendali kesabaran.
“Kamu juga orang beriman
kan?”
“Ya, pasti!”, jawabku dengan rasa dongkol di dalam hati, namun
kedongkolan itu kubungkus rapat-rapat dengan daun-daun kesabaran dan
ketabahan.
“Kalau begitu, Kamu pasti yakin dan percaya kepada Alloh
kan?”
“Ya, otomatis,” jawabku dengan kedongkolan yang semakin sulit
kututupi.
“Apakah Kamu mencintai Alloh?”
“Sangat cinta!”,
jawabku sambil berupaya keras untuk memegang teguh kesabaran dan
kedewasaan berpikir.
“Cinta yang keberapa yang Kamu berikan kepada
Alloh?”
Aku terdiam. Berpikir dalam-dalam, berintrospeksi. Aku sadar
bahwa cinta yang seharusnya kupersembahkan kepada Alloh adalah cinta
yang pertama dan utama. Aku juga sadar bahwa yang seharusnya menerima
dan berhak atas segala penyerahanku hanyalah kepada Alloh. Dan, kini aku
pun benar-benar paham mengapa dia menolak cinta pertamaku dan segala
penyerahanku.
“Sudah paham?” tanyanya, mengejar.
“Sudah,”
jawabku, pendek, dan tanpa sedikit pun rasa dongkol.
“Apakah Kamu
masih tetap ingin menyerahkan cinta pertama Kamu kepadaku?” kejarnya.
“Tidak!
Cinta pertama hanya pantas diberikan kepada Alloh,” jawabku.
Dia
tersenyum tipis, yang kemudian perlahan-lahan senyum itu mengembang
hingga menjadi sebuah tawa yang indah, bukan tawa yang terbahak-bahak.
“Kalau
begitu, cinta yang kupersembahkan kepadamu adalah cinta yang kedua,
setelah cinta kepada Alloh,” lanjutku.
“Oh, jangan! Jangan!
Jangan! Yang kedua pun aku belum berhak dan belum pantas menerimanya.”
Aku
kembali diam. Terpekur. Introspeksi lagi. Bertanya-tanya kepada hati
sanubari, siapa gerangan yang paling berhak menerima cinta keduaku.
“Kamu
percaya kepada utusan-utusan Tuhan?” tanyanya, kemudian.
“Ya, saya
percaya karena itu satu paket dengan percaya kepada Alloh,” jawabku.
“Kalau
begitu, Sampean juga cinta kepada utusan Alloh yang paripurna?”
lanjutnya.
Lagi-lagi, aku terdiam, tersadar, dan terpekur. Aku tahu
bahwa pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab adalah “Cinta keberapa
yang Kamu berikan kepada utusan Alloh yang paripurna itu?”
“Kok,
nggak njawab, apa Kamu tidak cinta kepada utusan Alloh yang terakhir
itu?”
“Aku sangat mencintainya, dan karena itu, sekarang aku sadar
bahwa cinta keduaku seharusnya untuk junjunganku itu,” jawabku.
“Kalau
begitu, apakah Kamu akan memberikan cinta yang ketiga kepadaku?”
kejarnya.
Aku diam. Aku mencoba berpikir dalam-dalam. Aku yakin dia
pasti akan menolak lagi jika itu kuutarakan. Pasti! “Aku benar-benar
bodoh. Aku ingin tahu, cinta keberapa yang seharusnya kau inginkan
dariku…??!” tanyaku.
“Yang keenam!” jawabn gadis itu, pendek.
“Lho,
yang ketiga, keempat, dan kelima untuk siapa?” tanyaku, heran.
“Yang
ketiga untuk jihad di jalan Tuhan, yang keempat untuk Ibumu, dan yang
kelima
untuk Bapakmu,” jawabnya.
“Berarti, cinta yang kupersembahkan
kepadamu harus merupakan sisa-sisa dari kelima cinta itu?” tanyaku.
“Cinta
itu bukan benda padat, bukan benda cair, dan bukan pula benda gas.
Cinta itu tidak akan pernah habis meski diberikan kepada siapa saja
dalam kadar yang sangat besar sekalipun. Cinta juga bukan bilangan
matematika. Cinta juga tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka-angka
dan persentase.”
Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan petuah
cintanya. Aku semakin menyadari kebodohanku selama ini, terutama tentang
cinta yang benar.
“Selama ini sangat banyak orang yang salah
menempatkan cinta. Cinta kepada sesuatu diletakkan di atas cinta kepada
ibu-bapaknya, di atas cinta kepada jihad di jalan Tuhan, di atas cinta
kepada utusan Tuhan, dan bahkan di atas cinta kepada Tuhan sendiri.
Karena itu, berjuta-juta pelanggaran cinta pun terjadi dan terus-menerus
selalu terjadi di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi-kondisi
bagaimanapun. Orang tidak segan-segan durhaka kepada ibu-bapaknya,
keluar dari jalan Tuhan, keluar dari ajaran rasul, dan bahkan berani
menantang Tuhan hanya karena cintanya yang sangat tidak proporsional
kepada harta, tahta, wanita, keluarga, saudara, kolega, penguasa, dan
sebagainya,” tuturnya, jelas dan tandas.
Kini aku semakin paham
dan jelas akan makna teologi cinta yang semestinya, senyatanya, dan
sebenarnya. Aku pun sadar bahwa selama ini aku belum mengenal teologi
cinta yang benar itu. Selama ini wawasan cintaku sangat sempit, dangkal,
dan rendah. Seiring dengan kesadaran itu, sebuah pemikiran jernih yang
bersemayam di dalam sanubariku yang suci seketika itu pun kontan
melayang-layang mengitari alam bebas nan luas.
“Kesalahan
menempatkan cinta itulah, sebenarnya, yang merupakan sumber segala
malapetaka, musibah, dan bencana yang menimpa manusia. Kesalahan
penempatan cinta oleh para pembuat atau penentu kebijakan pasti
melahirkan kebijakan atau keputusan yang salah, yang pasti akan
menimbulkan malapetaka, musibah, bencana, kehancuran, dan kebinasaan
bagi siapa dan apa saja yang berada di dalam kawasan berlakunya
kebijakan atau keputusan itu.”
“Kesalahan penempatan cinta oleh para
pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang politik akan melahirkan
kerusakan di bidang politik; kesalahan penempatan cinta oleh para
pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang hukum akan melahirkan
kerusakan di bidang hukum; serta kesalahan penempatan cinta oleh para
pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang ekonomi akan melahirkan
kerusakan di bidang ekonomi. Demikian pula kesalahan penempatan cinta
oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang-bidang lainnya
sosial, budaya, pertahanan-keamanan, lingkungan hidup, hak asasi
manusia, dan sebagainya, pasti akan melahirkan kerusakan, kehancuran,
dan kebinasaan bagi siapa dan apa saja yang berada dalam kawasan
berlakunya kebijakan itu.”
Begitu pemikiran jernihku berhenti
melayang-layang di alam bebas nan luas, aku pun merasa telah sampai di
suatu titik kesadaran yang setinggi-tingginya. Tiba-tiba, dari dalam
sanubariku tercetus ikrar kesetian kepada Tuhan, pencipta sekaligus
pemilik kebenaran dan kebaikan hakiki dan sejati.
“Mulai saat ini,
hamba-Mu yang lemah dan sering zalim ini akan selalu berupaya sekuat
tenaga untuk menempatkan cinta kepada-Mu di tempat yang pertama, utama,
dan tertinggi. Dan, hamba juga akan berusaha sekuat tenaga untuk
senantiasa menempatkan cinta kepada selain Engkau di tempat yang
sebenarnya dan semestinya.”