Sang Aprilku

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa kita hanya manusia
yang tak punya apa-apa
selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa
melainkan hati yang ada di dalam dada
dan amal jasad yang lata


Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda
tergantung dalam keadaan apa kita berada
Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”
Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..
Alam terus menari dalam simfoninya
Waktu…..
Umur manusia didikte olehnya
Waktu….. setiap detaknya
memakukan kita di persimpangan jalan
jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..
semoga tak melalaikan kita
tuk terus berjalan di jalan-Nya

Penggalau Elegan

Ketika galau hati tak sanggup bercerita
sejenak kuingin terjaga dari keramaian dunia...
 
Sepertinya kumulai muak dengan segala basa-basi kehidupan
yang keramahannya semakin jauh dari kata tulus......

 

Entah dari hati yang mana lagi yang bisa kumintai sedikit cinta
setidaknya ada kata yang lebih layak untuk dikatakan...

 

Pantas sebelum seleksi alam menguji kesejatian cinta
tak ingin rasanya beranjak dari sini walau disana ada yang menantiku...
 
Mungkin ingin menyampaikan kabar gembira
atau hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal....

Bukan Aku Tapi Kamu


  • Aku sudah tak tau
  • Seperti apa rasa cinta itu

  • Aku sudah tak ingat
  • Seperti apa menyentuhmu

  • Aku sudah tak punya mimpi yang dulu
  • Saat indah denganmu
  • Kau buat aku lupa dengan dirimu
  • Kau jauhi aku

  • Jangan bertahan dengan diriku
  • kalau tak ada citamu lagi
  • Dalam hatiku ini seperti apa
  • Biar aku yang tau

  • Kau sudah tak mau tahu dengan diriku
  • Kau jauhi aku

  • Jangan kau paksa karena ku rasa
  • Hancurnya kita terjadi bukan karena aku
  • Tapi Kamu...
  • Tapi Kamu....

Pernah Dengar Cowok Curhat???? check at that!!!!


Tidak semua cowok seperti Deddy Corbuzier. Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu di saat kamu diam tanpa suara. Apa susahnya sih bilang 'Aku laper, ku minta ini, itu..,'
Hari minggu itu waktunya istrahat setelah 6 hari bekerja. Jadi jangan harap kami mau menemani seharian jalan-jalan ke Mall.
Berbelanja bukan Olahraga. Dan kami tidak akan berpikir ke situ. Bagi kami belanja ya belanja. Kalau sudah pas, ya beli saja. Perbedaan toko A dan Toko B cuma 1000 perak, jadi gak usah keliling kota untuk cari yang paling murah. Buang-buang bensin aja..,
Menangis merupakan suatu pemerasan. Lebih baik kami mendengar suara Guntur, Petir, atau Bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa-apa..,
Tanya apa yang kamu mau. Sindiran halus tidak akan dimengerti, sindiran kasar tidak akan dimengerti, terang-terangan menyindir juga tidak akan dimengerti. Ngomong langsung napa..?
Yah dan Tidak adalah jawaban yang paling tepat diterima hampir semua pertanyaan. It's Simple..,
Cerita ke kami kalo masalah kamu mau diselesaikan. Kalau cuma mau mendapat simpati, cerita aja ke teman-teman cewekmu !
Semua yang kami katakan 6 bulan lalu tidak bisa dipertimbangkan dalam suatu argumen. Janji kami untuk menyeberangi lautan dan mendaki gunung untuk cintamu, hanyalah Klise. Jangan dianggap serius.
Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong, Cermin lebih jujur daripada lelaki..,
Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua-duanya dong. Kalau kamu pikir kamu bisa melakukannya lebih baik, kerjain aja sendiri !
Kalau bisa, Ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja. Ingat ! Jangan sekali-kali ngomong apalagi pas saat tendangan Penalti !.

Kami bukan anak kecil lagi. Jadi gak perlu mengingatkan jangan lupa makan, selamat tidur, dan lain-lain. Menurut kami, itu hanya pemborosan pulsa aja..,
Kalau kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa-apa, kami akan berpikir memang gak ada apa-apa . Ingat ! Seperti no. 1, kami bukan pembaca pikiran. Ngomong dong !
Kalau kita pergi berdua ke suatu tempat, pakaian apapun yang kamu pake, pantas aja kok. Jadi tidak ada alasan gak mau pergi ke pesta karena tidak ada baju.
Kami malas berdebat secara hati dan perasaan. Ingat ! Kami lelaki hanya pake Logika..,
Jangan ngirim sms atau nelpon saat kami bersama teman sesama laki-laki, karena kalo teman nanya dari siapa, kami akan jawab dari sms nyasar ..,
Jumlah laki-laki di Indonesia lebih sedikit daripada perempuan, jangan salahkan kami kalau punya selingkuhan di mana-mana.
Dari 10 orang laki-laki, hanya satu yang baik hatinya. Kalau kamu pikir Aku baik, berarti Akulah yang satu itu. Hahay..,
Kami sering begadang. Kamu tidak perlu ikut begadang untuk nunjukkin rasa cintamu. Tapi kalau kamu tetap nekat mau begadang, gantikan Aku ronda nanti malam..,
Terima kasih sudah baca ini. Aku mau tidur dulu.., Daaaahhhh.....

SETIA ITU MENYAKITKAN

Awalnya aku termasuk orang yang mengagung-agungkan kesetian...
Entah berapa lama aku habiskan waktuku hanya untuk mencari orang yang setia...

Apakah aku harus menemukan orang yang sama-sama pernah gagal dalam kasus asmara dulu, agar kesetiaan itu indah???
kemudian aku sibuk mendengar curhatan masa lalunya yang menyedihkan itu...

Hari ini aku telah terbangun dari mimpi-mimpi yang selama ini menggalaukan petikan-petikan kisah yang kujajal bersama keagungan kesetian yang mengerikan itu...

Cukupkanlah kesetiaanmu untuk Tuhan, Rasul dan Agamamu...

Karena Setia itu lebih dekat dari kenistaan...

Ide mutlak dari setiap khayalan.
Dia yang bahkan tidak memiliki nama, namun memberi nama agar mampu dimaknai. Dia yang ada dalam ketiadaan, Sesuatu yang tak mampu dibicarakan....

LEBIH MUDAH MANA?"


Ketika aku berpikir negatif pada seseorang tanpa sadar, aku telah menghakimi orang itu....

Lebih mudah mana?
... Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan,......
atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman.....
atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri ?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan.....
atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain......
atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha untuk baik kepada siapapun...

Bukan orang lain yang bikin aku bahagia, melainkan sikap diriku sendirilah yang menentukan kebahagiaanku...

"Allaahummakfinii maa hammanii wa maa laa ahtammu lahu".

Ya Allah, peliharalah aku dari apa yang menjadikan kesusahan bagiku dan apa
yang tidak kuperlukan adanya...

Aamiin, Allahuma aamiin...

Filosofi Cinta

SEBAGAI lelaki normal, aku sangat mengaguminya. Selain berparas ayu, dia hampir memiliki segala kelebihan yang memang sangat patut dikagumi, terutama oleh para lelaki yang mendambakan kenikmatan cinta yang sejati.


Kalau bicara, tutur katanya halus, lembut, dan indah. Dia hampir tak pernah sekali pun merajuk sebagaimana umumnya gadis-gadis sebayanya. Dia juga tak pernah bermanja-manja kepada siapa saja. Dia pun tak pernah mengumbar emosinya sehingga uring-uringan, marah, memaki, mengumpat, menghina, mencela, dan sebagainya sama sekali tak pernah dia lakukan. Dan, dia juga selalu “on” untuk diajak berbicara tentang apa saja. Dia memang nyaris sempurna sebagai seorang manusia, sebagai seorang gadis, sebagai seorang anak, sebagai seorang sahabat, dan sebagainya. Masya Allah!!!

“Aku sangat mengagumimu dan mencintaimu. Lahir dan batin. Jasmani dan rohani. Hidup dan mati. Dalam suka maupun duka,” kataku berterus terang, dalam suatu kesempatan tatap muka dengannya.
“Cinta yang keberapa yang kamu berikan kepadaku?” tanyanya, sambil menyunggingkan sebuah senyum yang amat manis.
“Tentu saja, cinta yang pertama sekaligus terakhir. Cinta yang utama dan segala-galanya. Setitik pun tidak ada cinta yang tertinggal, semua kupersembahkan hanya kepadamu,” jawabku, dengan intonasi serta mimik sangat serius.

“Ah, jangan begitu! Aku justru tidak mau kalau cinta pertama itu kamu berikan kepadaku, apalagi hanya kepadaku. Juga, aku tidak mau kalau kamu menyerahkan segala-galanya kepadaku. Sekali lagi, aku tidak mau cinta seperti itu,” jawabnya, mantap.
“Maksudmu?”

“Kamu harus tetap realistis. Kamu harus tetap menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jangan menempatkan sesuatu bukan pada tempat yang sebenarnya. Kamu tidak boleh fasik!” tuturnya, lembut namun menyentuh relung hatiku yang terdalam.

“Artinya?”
“Ya, aku hanya manusia biasa yang tak lepas dari cela. Aku bukan manusia sempurna, bahkan, mungkin, sangat jauh dari sempurna. Kalau pun manusia sempurna, aku masih juga belum berhak dan pantas menerima cinta pertama dari siapa pun. Juga penyerahan atas segalanya dari siapa saja, aku tak berhak menerima, dan karena itu aku wajib menolaknya,” jelasnya.

“Lalu…lalu…lalu…?”
“Ya sudah, titik. Tidak boleh lalu, lalu.”
“Aku masih belum paham maksudmu.”
“Belum paham atau tak mau paham?”
Aku diam. Namun, hatiku bergejolak. Aku penasaran. Ingin rasanya segera mendapatkan jawaban yang melegakan dari dia.

“Kamu orang beragama kan?” tanyanya, menyengat hatiku.
“Ya, tentu!”, jawabku dengan nada agak tinggi, namun masih dalam kendali kesabaran.
“Kamu juga orang beriman kan?”
“Ya, pasti!”, jawabku dengan rasa dongkol di dalam hati, namun kedongkolan itu kubungkus rapat-rapat dengan daun-daun kesabaran dan ketabahan.
“Kalau begitu, Kamu pasti yakin dan percaya kepada Alloh kan?”
“Ya, otomatis,” jawabku dengan kedongkolan yang semakin sulit kututupi.
“Apakah Kamu mencintai Alloh?”

“Sangat cinta!”, jawabku sambil berupaya keras untuk memegang teguh kesabaran dan kedewasaan berpikir.
“Cinta yang keberapa yang Kamu berikan kepada Alloh?”
Aku terdiam. Berpikir dalam-dalam, berintrospeksi. Aku sadar bahwa cinta yang seharusnya kupersembahkan kepada Alloh adalah cinta yang pertama dan utama. Aku juga sadar bahwa yang seharusnya menerima dan berhak atas segala penyerahanku hanyalah kepada Alloh. Dan, kini aku pun benar-benar paham mengapa dia menolak cinta pertamaku dan segala penyerahanku.

“Sudah paham?” tanyanya, mengejar.
“Sudah,” jawabku, pendek, dan tanpa sedikit pun rasa dongkol.
“Apakah Kamu masih tetap ingin menyerahkan cinta pertama Kamu kepadaku?” kejarnya.
“Tidak! Cinta pertama hanya pantas diberikan kepada Alloh,” jawabku.
Dia tersenyum tipis, yang kemudian perlahan-lahan senyum itu mengembang hingga menjadi sebuah tawa yang indah, bukan tawa yang terbahak-bahak.
“Kalau begitu, cinta yang kupersembahkan kepadamu adalah cinta yang kedua, setelah cinta kepada Alloh,” lanjutku.

“Oh, jangan! Jangan! Jangan! Yang kedua pun aku belum berhak dan belum pantas menerimanya.”
Aku kembali diam. Terpekur. Introspeksi lagi. Bertanya-tanya kepada hati sanubari, siapa gerangan yang paling berhak menerima cinta keduaku.

“Kamu percaya kepada utusan-utusan Tuhan?” tanyanya, kemudian.
“Ya, saya percaya karena itu satu paket dengan percaya kepada Alloh,” jawabku.
“Kalau begitu, Sampean juga cinta kepada utusan Alloh yang paripurna?” lanjutnya.
Lagi-lagi, aku terdiam, tersadar, dan terpekur. Aku tahu bahwa pertanyaan selanjutnya yang harus kujawab adalah “Cinta keberapa yang Kamu berikan kepada utusan Alloh yang paripurna itu?”

“Kok, nggak njawab, apa Kamu tidak cinta kepada utusan Alloh yang terakhir itu?”
“Aku sangat mencintainya, dan karena itu, sekarang aku sadar bahwa cinta keduaku seharusnya untuk junjunganku itu,” jawabku.

“Kalau begitu, apakah Kamu akan memberikan cinta yang ketiga kepadaku?” kejarnya.
Aku diam. Aku mencoba berpikir dalam-dalam. Aku yakin dia pasti akan menolak lagi jika itu kuutarakan. Pasti! “Aku benar-benar bodoh. Aku ingin tahu, cinta keberapa yang seharusnya kau inginkan dariku…??!” tanyaku.
“Yang keenam!” jawabn gadis itu, pendek.

“Lho, yang ketiga, keempat, dan kelima untuk siapa?” tanyaku, heran.
“Yang ketiga untuk jihad di jalan Tuhan, yang keempat untuk Ibumu, dan yang
kelima untuk Bapakmu,” jawabnya.

“Berarti, cinta yang kupersembahkan kepadamu harus merupakan sisa-sisa dari kelima cinta itu?” tanyaku.
“Cinta itu bukan benda padat, bukan benda cair, dan bukan pula benda gas. Cinta itu tidak akan pernah habis meski diberikan kepada siapa saja dalam kadar yang sangat besar sekalipun. Cinta juga bukan bilangan matematika. Cinta juga tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka-angka dan persentase.”
Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan petuah cintanya. Aku semakin menyadari kebodohanku selama ini, terutama tentang cinta yang benar.

“Selama ini sangat banyak orang yang salah menempatkan cinta. Cinta kepada sesuatu diletakkan di atas cinta kepada ibu-bapaknya, di atas cinta kepada jihad di jalan Tuhan, di atas cinta kepada utusan Tuhan, dan bahkan di atas cinta kepada Tuhan sendiri. Karena itu, berjuta-juta pelanggaran cinta pun terjadi dan terus-menerus selalu terjadi di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi-kondisi bagaimanapun. Orang tidak segan-segan durhaka kepada ibu-bapaknya, keluar dari jalan Tuhan, keluar dari ajaran rasul, dan bahkan berani menantang Tuhan hanya karena cintanya yang sangat tidak proporsional kepada harta, tahta, wanita, keluarga, saudara, kolega, penguasa, dan sebagainya,” tuturnya, jelas dan tandas.

Kini aku semakin paham dan jelas akan makna teologi cinta yang semestinya, senyatanya, dan sebenarnya. Aku pun sadar bahwa selama ini aku belum mengenal teologi cinta yang benar itu. Selama ini wawasan cintaku sangat sempit, dangkal, dan rendah. Seiring dengan kesadaran itu, sebuah pemikiran jernih yang bersemayam di dalam sanubariku yang suci seketika itu pun kontan melayang-layang mengitari alam bebas nan luas.

“Kesalahan menempatkan cinta itulah, sebenarnya, yang merupakan sumber segala malapetaka, musibah, dan bencana yang menimpa manusia. Kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat atau penentu kebijakan pasti melahirkan kebijakan atau keputusan yang salah, yang pasti akan menimbulkan malapetaka, musibah, bencana, kehancuran, dan kebinasaan bagi siapa dan apa saja yang berada di dalam kawasan berlakunya kebijakan atau keputusan itu.”
“Kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang politik akan melahirkan kerusakan di bidang politik; kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang hukum akan melahirkan kerusakan di bidang hukum; serta kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang ekonomi akan melahirkan kerusakan di bidang ekonomi. Demikian pula kesalahan penempatan cinta oleh para pembuat dan pelaksana kebijakan di bidang-bidang lainnya sosial, budaya, pertahanan-keamanan, lingkungan hidup, hak asasi manusia, dan sebagainya, pasti akan melahirkan kerusakan, kehancuran, dan kebinasaan bagi siapa dan apa saja yang berada dalam kawasan berlakunya kebijakan itu.”

Begitu pemikiran jernihku berhenti melayang-layang di alam bebas nan luas, aku pun merasa telah sampai di suatu titik kesadaran yang setinggi-tingginya. Tiba-tiba, dari dalam sanubariku tercetus ikrar kesetian kepada Tuhan, pencipta sekaligus pemilik kebenaran dan kebaikan hakiki dan sejati.
“Mulai saat ini, hamba-Mu yang lemah dan sering zalim ini akan selalu berupaya sekuat tenaga untuk menempatkan cinta kepada-Mu di tempat yang pertama, utama, dan tertinggi. Dan, hamba juga akan berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menempatkan cinta kepada selain Engkau di tempat yang sebenarnya dan semestinya.”

Cari Orang Yang Tepat

Sesungguhnya,
banyak orang yang mengaku jatuh cinta itu,
tidak jatuh cinta.
Mereka hanya tersandung cinta
atau terhuyung karena tersenggol cinta,
tapi mereka tidak betul-betul jatuh cinta.
Buktinya?
Banyak orang yang katanya mencintai kekasihnya,
masih bisa berpaling cinta dan membagi hati.
Bukan keindahan dari cinta itu yang sekarang penting,
tapi apakah Anda jatuh cinta kepada orang yang setia?

Bingung

Tertawakanlah matahari di malam hari..

Dan ejeklah purnama di siang hari..

Jgn kau teliti n cermati..

Dan pergilah dgn putus asa menuju irak..

Ucapkanlah prkataan tanpa makna..

Dan bersumpalah dgn tegas ats keb0hongan..

Siapa seperti siapa??

Tanpa perbedaan dan kesamaan. . .

Kumohon




Terlalu banyak waktu yang telah ku korbankan
Pada dirimu.. Namun kau tak mengerti
Terlalu besar harap yang telah ku bebankan
Pada hatimu.. Namun kau tak sadar itu
Tunjukkan padaku bila kau masih mencintainya
Sadarkan hatiku bila ku memang tak di hatimu
Kumohon..
Kumohon..

Tunjukkan padaku dan beri ku kepastian








*plagiiat memang..tapi ini benar2 mewakili yang tak terucap kak..


_Putrie..





GIMANA CARANYA

Saat pertama aku dengar suaramu.

Hatiku pun menjadi gelisah.

Saat pertama kulihat wajahmu.

Hatiku pun menjadi membeku.


Dan saat bersama dirimu.

Terasa terapung rasa sukmaku.

Dan saat kau mulai bicara.

Tak sanggup tersingkir rasa penatku.


Aku tak bisa.

Berkutik di hadapan dirinya.

Aku tak akan pernah.

Menjadi nilik seorang.


Ajarilah aku bicara.

Ajarilah aku bertingkah.

Agar aku bisa.

Tidak Cukup Hanya Diam

Menyukapi keadaan yang begitu rumit, tidak hanya membuat kepala pusing, juga mengorbankan banyak perasaan....
Tidak untuk kali pertamanya, udah kesekian kalinya masalah yang seperti ini datang, tapi kali ini terlalu banyak bukan korban seharusnya pun ikut merasakannya...
Sungguh ini kesalahan yang fatal, tapi bukan berarti harus berlomba-lomba ingin terlihat tidak bersalah, ingin tampil sempurna, ingin menyududkan yang bersalah, sampai harus merasa saling tidak enak, tidak enak bukan, itu kan yang kau cari...

Seperti kebakaran jenggot aja, bingung mau ngapain, fikirannya siapa yang harus disalahkan....
Aku anggap kalian sudah sedewasa mungkin dalam menanggapi hal-hal seperti ini...
tapi kalian seperti teman yang bertaring ketika malam purnama...

Aku tau kamu sudah mengorbankan banyak hal, bahkan perasaan pun kamu korbankan, aku sangat menghargai itu....
Sebagai manusia awam aku tidak melihat keikhlasan itu...
Tanpa kamu pamerkan apa yang kamu lakukan, apa yang kamu korbankan, semua orang juga tau kok kalau makan itu pakai mulut, jalan itu ya pakai kaki...
Padahal aku tidak tau apa yang terjadi disana, dengan penolakan sederhana yang kamu anggap tidak masuk akal itu, tanpa fikir panjang kamu rela jadikan pengorbananmu menjadi santapan kekecewaanmu yang aku tidak tau kamu kecewa karena kami tidak datang atau karena kamu capek menyiapkan segala sesuatunya...

Masih sangat sedikit yang kau tau tentangku....
Sungguh berani...

Mencoba Untuk Berharap

Mungkin permainan kata membuat kita bertanya. Begitu pun masalah yang merambah. 
Tanpa kita kenal salah, maka takkan pernah kita mengetahui kebenaran...

Untukmu yang bertutur dibelakang daun pintu....

Ingin kuucapkan, "kukalungkan kunci untuk membuka pintu kebahagiaanmu yang terkurung di jeruji perih." 
Berharap jawaban, "Akan kujaga kalung suci ini, duhai pemberi kata yang kuminta untuk senja."

Semoga kau mengerti, duhai pelita senja
Bahwa aku masih disini
Menanti di tepi kabut jingga....

Jujur, kotak ini masih sangat asing bagiku...
Besar harapanku nantinya kotak ini bisa bersahabat baik denganku, bisa memberikan sesuatu yang bermamfa'at, adapaun nantinya ada musafir yang entah karena tersesat, atau menyengaja diri ingin bersilaturahmi, dari awal dengan kerendahan hati aku mohon maaf jika tidak akan menemui kepuasan dalam hidangan, justru yang aku harapkan adalah sudi kiranya untuk berbagi perbekalan...

Tanpa Bertanya Kau Pergi Begitu Saja

Terlalu cepat kamu memilih untuk pergi, terlalu cepat keputusan kau ambil tanpa panjang pikir.
Itu bukan cinta. Sebab tak ada getaran sedikit pun di hatimu baginya. 
Kamu bahkan dengan yakin katakan bahwa kamu pun ragu dengan rasa yang ada dihatimu. Untuknya.
Jalan yang kau ambil adalah jalan putus asa oleh karena sekian lama jalan yang kau tempuh tak pernah kau dapati jalan mulus.

Ini bukan takdir, tapi kamu sendiri yang menghukum dirimu dengan keterpurukan ini.
Kamu terlalu kecewa oleh kehidupan yang menurutmu terlalu bengis dan tak pernah adil bagimu. 
Kamu bahkan berulangkali meminta jawaban ketika kebingungan baru datang mengantar setengah dirinya padamu.
Ini bukan jawaban atas setiap doa yang setiap hari kau angkat kepada-Nya.. 
Ini pelampiasan kemarahanmu atas hidupmu. Atas cintamu. Atas masa lalumu, atas dendammu.

Kamu tak pernah berpikir atas hari esok apa yang akan terjadi padamu. Kamu hanya ingin menunjukan pada orang lain bahwa kamu pun bisa. Tapi kamu tak pernah pikirkan resiko apa yang akan terjadi esok. Kamu hanya ingin menghibur dirimu saat ini dengan cara itu. Kamu sendiri mungkin sudah tahu, bahwa esok bisa jadi kamu akan menangis karena telah salah melangkah.

Ini pelarian. Sebab telah kau tempatkan cintamu pada tempat yang tak semestinya. Kamu menerimanya dengan lapang dada namun hatimu terus bertanya-tanya dalam ragu yang bisu tentang semua kenyataan yang saat ini kamu hadapi. Tak ada kepastian sedikit pun dihatimu akan jalan panjang ke depan yang akan kau lalui. Dalam doamu bahkan kau masih bertanya pada Tuhan mana kepastian yang sesungguhnya untukmu.
Sungguh, aku yang di sini tak pernah setega itu membiarkanmu lebih jauh melangkah menuju arah yang salah. Tapi sampai hari ini pun tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahmu. Aku bahkan tidak lebih dari noktah yang mengotori gaun pengantinmu yang sudah kau rancang dengan setengah hati. Aku tidak lebih dari jamur yang mengotori lintasan karpet beludru yang kau rentang menuju singgasana yang kau ciptakan dengan terpaksa.

Pada akhirnya, ini keputusanmu. Pilihanmu. Jalan hidupmu. Tak ada alasan yang tepat untuk memanggilmu kembali ke tempat semula dan memulai lagi langkahmu pada jalan yang seharusnya.
Pada akhirnya, teruslah melangkah peri kecilku, mungkin memang ini jalan hidupmu. Kosong bukan berarti esok tak akan terisi. Segala sesuatu berawal dari tiada dan menjadi ada.
Semoga kita masih bisa menjadi bulan dan bintang yang tetap bersanding pada malam gelap dan tetap saling memandang lalu bercengkrama, raga kita memang tak akan lagi menyatu, namun biarlah cahaya kita masih bisa menerangi jalan gelap yang lain.

Semoga kamu masih mau menjadi peri kecilku yang selalu terbang dalam alam mimpiku dan membawaku melintasi segala masalah dengan tersenyum tanpa ragu dan takut.
Selamat menikmati perjalanan hidupmu, Putrie.…

Ketidak Adilan Rasa

Kemana harus mengadu, ketika rasa tidak dirasakan...
tenggorokan ini kering mencari rasa yang sama...
indra perasa tak dapat merasa...
dimanakah keadilan rasa...
kemana rasa hakim yang diagung-agungkan selama ini...

Hidup diantara rasa kalian
sama halnya merasakan api diujung lidah...

adakah engkau rasakan apa yang aku rasa???

Biarkanlah Ku Rasakan

Biarkanlah ku reguk sang waktu
disepenggal waktu
biarkanlah ku halau batas itu
dan mendekati rasa itu
biarkanlah..
kurasakan…
halus nya rasa rindu…
halusnya hangat senyummu
halusnya hangat tatapan matamu
sorotan kasihmu, untukku…
biarkanlah aku terbawa arus mu
arus mu yang melemahkan hasratku
arusmu yang melelehkan kuatku
arusmu yang pijarkan cintamu
biarlah…

 
aku serahkan rasa ku..
tanpa kata
tanpa nada…
tanpa banyak alasan..
tanpa banyak pertimbangan..
aku hanya ikuti kata hatiku
yang mungkin kata orang terlalu lemah
aku tak perduli…
aku hanya ingin bersama nyaa
bersama jiwa yang selama ini ku rindu
bersama raga yang selama ini ku mau…
dia datang di hadapanku
membawa kotak cinta berpita merah
hati aku lah yang telah MEMILIHNYA…
ITU SAJA…
sangat sederhana
rasa yang aku punya…
tak mampu terjelaskan dengan kata kata
aku hanya mampu tersenyum saat pandang wajah nya
aku hanya mampu tertegun bila lihat senyum nya…

Ada Yang Tak Biasa

Hitamnya malam ketika mendung...
mana kala hati ini gundah memikirkan seseorang yang belum tentu meikirkan aku...
ada rasa yang tak biasa, ada rindu yang hampir meledak, ada hitam diatas putih...

Indahnya canda tawa...
keringnya bibir disaat memandang, kenapa hatimu begitu keras, padahal tanda-tanda apalagi yang tidak aku perlihatkan...

Basahnya ubun-ubun diatas menara, lentiknya ujung rambut dibawah matahari...
kau memang biasa membuatku tidak terbiasa...
keterbiasaanku kini menjadi luar biasa...
halah, biasa aja donk....
hehehe

Kenyataan Itu Menyakitkan

Untuk sekian kalinya ku tumpahkan ditempat yang sama. 
Kebobrokan yang ada didalam hati yang tak terlihat oleh tumpukan senyuman dan canda tawa akhirnya harus dikeluarkan lagi. 

Ternyata kenyataan itu memang lebih menyakitkan, berawal dari kenyataan yang harus ku terima belakangan. Kenapa ia ceritakan betapa hitamnya mendung di sana, dan kenapa pula aku selalu ingin tau keadaannya. Itu yang membuat kenyataan-kenyataan itu bermunculan. 

Kenyataan pertama, wanita yang aku sangat cintai ternyata mencintai orang lain (it's hurt me). 
Kenyataan kedua orang itu ternyata temanku, bisa dibilang teman akrabku (yang ini lebih melukaiku).
Kenyataan ketiga yaitu ketika aku tau betapa besarnya cintanya dia pada tmnku. 
huff....

Seperti dilempar tahi sapi kemuka lalu aku jilat lagi, hal ini terjadi dan aku tak mampu berbuat apa! Aku hanya bisa tersenyum dalam kesedihanku, Hanya lagu cinta, dan sedih yang bisa menghiburku sementara ini...

Aku tak bisa memaksakan cintaku pada orang lain, apalagi aku mengetahui betul bagaimana perasaannya. tapi apakah cinta itu benar-benar tak bisa tumbuh di hatinya sedang kata "sayank, cinta, dsb" Sudah sering kami ucapkan! Oh god, kenyataan ini sungguh membuatku drop untuk kali ini.. semoga bisa lebih baik nantinya! Amin,,,

KUATKAH AKU...

Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang laindan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’Apabila cinta tidak berhasil…
BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI ..

Ingatlah…
bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
tapi..
ketika cinta itu mati..
kamu TIDAK perlu mati bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalumenang..
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketikamereka jatuh

LEBIH BAIK DARI BINATANG

Apakah ada yang lebih baik dari burung hantu? Hewan yang selalu terjaga saat malam ketika hewan-hewan lain terlelap. Ia masih mengawasi keadaan sekeliling dengan mata yang tajam dan leher yang bisa berputar 180 derajat. Mungkin sesekali merenung di tengah kesunyian malam. Memikirkan apa hakikat dari semua ini, sendirian. Oleh karena itulah, burung hantu adalah lambang pengetahuan bagi peradaban Barat (Lihat saja maskot kuis Galileo dulu).

Apakah ada yang lebih baik dari serigala? Hewan licik yang suka bersembunyi menunggu mangsa diantara semak-semak hutan. Hewan yang disebut "sadis" atau "bengis" karena suka tiba-tiba menyergap, meggigit dan mencabik-cabik mangsa hingga berdarah-darah. Tapi apakah kamu tahu ia berbuat itu untuk memberi makan keluarganya, serigala betina dan anak serigala? Apa kalian tahu ia melakukan semua itu sendirian? Apa kalian tahu juga serigala masih satu keluarga dengan anjing yang mempunyai sifat setia? Bahkan melebihi setia antar manusia itu sendiri.

Sayang sebagian besar orang menganggap serigala itu licik, sehingga muncul ungkapan "serigala berbulu domba". Padahal, ia tidak pernah bermaksud demikian. "Kelicikan saya itu seperti kelicikan Robin Hood, yang merampas harta orang kaya untuk dibagikan pada kaum miskin," katanya suatu hari ketika saya wawancara ia di hutan. hehehe

Apakah ada yang lebih baik dari ular? Ular yang mengubah warna kulitnya menyerupai daun-daun di pohonan. Ular yang berbisa. Ular yang bisa membuat manusia mati hanya dengan satu gigitan kecil. Tapi apa kamu tahu ia melakukan itu hanya jika merasa diganggu? Ia semata-mata melindungi diri, bukan menyerang. Oleh karena itu, ular adalah simbol kebijaksanaan bagi peradaban India Kuno.

Apakah ada yang lebih baik dari kucing? Kucing yang mengeong-ngeong di pekarangan rumah. Kucing yang sedikit manja, rewel minta makan atau kadang-kadang menghilang entah kemana (setelah dicari, ternyata lagi main ama kucing tetangga). Kucing yang senyumnya manis, dengkurannya yang halus ketika tidur, lalu diam-diam mencuri ikan asin di meja saat bangun. Tapi toh walaupun suka pura-pura begitu, ia tetap lucu dan menggemaskan. Mungkin karena itu, konon, kucing adalah hewan kesayangan Nabi Muhammad.

Apakah ada yang lebih baik dari itu semua, matahari? Apakah ada yang lebih baik dari burung hantu, serigala, ular dan kucing? Jika ada, tunjukkanlah padaku. Semoga kau tidak membawa hewan-hewan langka dalam kerangkeng emas yang dijual di pasar gelap.

 
Diberdayakan oleh Blogger.