Sang Aprilku

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa kita hanya manusia
yang tak punya apa-apa
selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa
melainkan hati yang ada di dalam dada
dan amal jasad yang lata


Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda
tergantung dalam keadaan apa kita berada
Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”
Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..
Alam terus menari dalam simfoninya
Waktu…..
Umur manusia didikte olehnya
Waktu….. setiap detaknya
memakukan kita di persimpangan jalan
jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..
semoga tak melalaikan kita
tuk terus berjalan di jalan-Nya

SEDIH DENGAN MARAH SAMA SAJA MENYAKITKAN HATI

Apa yang kalian lakukan saat marah? Mungkin ngomong langsung sama orangnya, ngomong langsung apa yang ada di pikiran. Menyembur bagaikan peluru dari AK 47. Cepat, tebas sana tebas sini, lalu diakhiri dengan dahi yang mengerenyit dan roman muka yang (pastinya) tidak sedap dilihat.

Atau mungkin kalian lebih dahsyat lagi. Selain mengeluarkan jurus "menyembur" kata-kata, kalian juga beraksi fisik. Membanting pintu, memecahkan gelas atau piring, melempar handphone, menampar, memukul, menjambak, menendang, memutilasi, menyilet-nyilet mukanya, mendorongnya ke jurang, memasukannya ke mesin penggiling padi. Aduh serem. Sepertinya saya terpengaruh film SAW. Sorry.
Intinya, tidak sebatas kata-kata, tapi juga melakukan aksi fisik.

Manusia itu emang lucu. Ga ada yang identik satu sama lain, bahkan anak kembar sekalipun. Semua punya ciri khasnya masing-masing, termasuk dalam hal marah.

Bagaimana dengan saya sendiri?
Saya tidak termasuk dua tipe diatas. Saya kalau sedang marah cenderung diam. Diam saja. Dingin. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak juga melakukan aksi fisik, menampar misalnya. Tidak, tidak. Saya tidak akan seperti itu. Saya diam saja. Menganggap sekeliling saya tidak ada apa-apa. Saya mungkin bakal menghabiskan waktu dengan tidur, main game, membaca, menulis, atau jalan-jalan keluar sendirian selama berjam-jam. Saya tidak mau membuang waktu dengan marah-marah yang menyebarkan energi negatif ke orang lain. Capek sendiri nantinya. Bisa-bisa keadaan malah tambah buruk, dan muncul masalah lain yang lebih buruk. Lieur pan?

Saat marah, saya mungkin seperti tulisan di rak barang pecah belah di toko: "Pecah berarti membeli". Harus hati-hati. Karena kalau tidak, dari mulut saya mungkin bakal menyemburkan api seperti naga. Api berupa kata-kata sinis, sindiran dan sumpah serapah yang sama sekali tidak bermaksud bercanda. Pasti bakal nyelekit. Sumpah, pasti malas berhadapan dengan orang seperti itu. Maka diamkan saja. Nanti juga kembali seperti biasa. High and low naturally. Jangan memaksa, karena segala yang dipaksakan tidak baik, bukan?

Pendendam
Saya orangnya pendendam. Sulit memaafkan orang lain. Jadi, misalnya ada seseorang yang sudah berbuat kesalahan besar menurut saya, saya bakal sulit berhubungan seperti biasa lagi dengannya. Saya mungkin bakal menganggap orang itu tidak ada, walau sebenarnya ada disamping saya. Saya bakal menganggapnya dia hantu saja. Ada atau tidak, menampakkan diri atau tidak, peduli amat. None of my business.

Yang jelas saya bakal buat dia menyesal. Dengan apa? Dengan pembuktian diri bahwa saya tidak seperti apa yang dia katakan, tidak seperti apa yang dia anggap. Saya buktikan semua anggapan dia itu salah. Kalau sudah berhasil membuktikan? Sorry, i really really don't care about you. Anything!

Tentu tidak ke semua orang saya bisa jadi begitu pendendam. Keluarga, saudara, pacar dan sahabat adalah pengecualian. Mereka adalah orang-orang luar biasa, sehingga saya bakal tidak tega. Sebesar apapun kesalahan mereka, saya belajar untuk memaafkan dan menyadari manusia tidak ada yang sempurna.

Saya sadar pendendam adalah salah satu sifat buruk saya. Semoga saja sifat buruk ini bisa berkurang suatu hari, sehingga orang-orang yang berbuat kesalahan besar, bisa dengan mudah dimaafkan. Semudah saya memaafkan keluarga, saudara, pacar dan sahabat. Ya semoga saja.

***

Yaa...begitulah saya. Ada pertanyaan? Kalau tidak, saya mau mengutip kata-kata Socrates, "Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dijalani".

Jadi apa yang kalian lakukan saat marah? Nice to start discussion, isn't it?

*Oh ya, tentang saya yang lain juga bisa diliat disini.

JANGAN SANGKA

Kalau saya sering menulis tentang kegelapan, bukan berarti saya berada dalam gelap. Saya cuma menghayati kegelapan.
Kalau saya sering memakai kata ‘mati’, bukan berarti saya ingin mati. Saya cuma ingin tahu ’mati’ itu apa.
Kalau saya sering memakai kata-kata kasar nan sinis; melukai hati. Bukan berarti saya tidak bisa lembut.
Saya cuma ingin menunjukkan, bahwa hidup kadang tidak mudah, hidup tidak selalu indah seperti dalam dongeng, hidup kadang harus dijalani dengan kepalan tangan sekeras karang.
Dan saya pun tahu, kita pasti kuat menghadapi itu semua.
Karena saya tidak akan menawarkan padang ilalang yang penuh dengan bunga, tapi padang kering yang penuh dengan tumbuhan mati; untuk kita tanami bunga, bersama-sama.
Percayalah, segala kata-kata manis saya buat untuk diri sendiri, sebagai perwujudan rasa yang tak mampu menjelma dalam raut muka dan perilaku.

Mimpiku


Saya akan menaruh mimpi dan keyakinan saya…
Biarkan…
Menggantung….
Mengambang…


5centimeter di depan kening saya…
Jadi dia gak akan pernah lepas dari mata saya.


Dan saya akan bawa mimpi dan keyakinan saya itu setiap hati, saya lihat setiap hari, dan percaya bahwa saya bisa. Apa pun hambatannya, saya akan bilang sama diri saya sendiri, kalo saya percaya sama keyakinan itu dan saya gak bisa menyerah. Bahwa saya akan berdirilagi setiap saya jatuh, bahwa saya akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu,segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri…
…biarkankeyakinan saya, 5 centi meter menggantung mengambang di depan kening saya. Dan…. Sehabis itu yang saya perlu…
Cuma…
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih bayak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja…
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya…
Serta mulut yang akan selalu berdo’a…


Dan saya ingin selalu di kenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan Cuma seonggok daging yang hanya punya nama. Saya ingin dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan  seorang pemimpi saja. Bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Tapi seorang yang selalu percaya akan keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita, dan keajaiban keyakinan manusia yang tak terkalkulasikan dengan angka berapapun… dan saya nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akanterwujud nantinya karena saya hanya harus mempercayainya.
Percaya pada 5 cm di depan kening saya…

13 April 1989


Alhamdulillah, Segala puji baginya yang menguasai seluruh isi dan di luar dunia, dimana sang MAHA segalanya masih memberikan saya umur yang panjang, kesehatan jasmani dan rohaninya sehingga saya mampu mendengar dan membaca ucapan-ucapan selamat, harapan dan doa-doa yang sangat mulya untuk hari Lahirku dari orang-orang yang juga sangat sayang padaku....

Pada waktu inilah saya dkeluarkan ke Bumi dari Rahim Ibunda Tercinta, atas Rahmat dan kasih sayang Allah Sosok Wanita ini mampu berjuang melawan kencangnya Angin keidupan, besarnya ombak dunia, banjirnya air mata cinta, keringnya air kesabaran, hinanya para penguasa, berbolak balik rasa ke-Ikhlasan, hanay ingin menjaga amanah Allah yang di embankan kepada Wanita ini, hanya ingin melihatku saya tumbuh besar, hanya ingin melihatku dan mendengarkan ucapan yang keluar dari mulutku ''Aku Anakmu, Engkau Ibuku"...
Sungguh Ibu wanita yang luar biasa, maafkan semua atas kesalahan-kesalahan anakmu ibu, Anakmu tidak sekuat ibu, anakmu tidak sesabar ibu, anakmu tidak se-ikhlas ibu, hati anakmu tidak selembut ibu, anakmu cuma manusia yang mudah lupa atas kasih sayang Allah dan Ibu, tapi Anakmu sayang padamu Ibu, Insya Allah suatu saat Ibu akan bangga pada Anakmu, Amin....
 
Subhanallah Ber-tahun-tahun Ibu sangat bersusah payah memeliharaku (melahirkanku pun sampai bertarung nyawa, "Aku yang Hidup ata Ibu'' Alhamdulillah sampai sekarang kita masih bisa merasakan ni'matNya sang pemberi keselamatan), menjagaku hingga tumbuh besar, hingga saya bisa melihat indahnya ciptaan Allah, indahnya karuniaNya, sempurnaNya kasih sayangNya, tiada makhluk dan apa pun itu yang bisa menyamain-Nya....

Eh, BTW-BTW...
Untuk Bapak mana???
Bukan lupa, bukan juga sengaja, tapi Hushushon untuk Ibu tercinta, hehehe.....

Ofiq Zaira

  AKU dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama SIMBUR NAIK, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Salah satu kabupaten yang terletak di Jambi. Aku hidup di tengah keluarga yang bahagia. Hidup di sebuah desa yang tenang dari kebisingan dan gempuran arus globalisasi memang mengasyikkan. Meskipun cukup sederhana.
Seperti halnya dengan bocah-bpcah kecil lainnya, hari-hariku kulalui dengan main-main dan belajar. Pagi sekolah SD, sorenya ngaji di sebuah mushola yang letaknya sekitar 100-an meter dari rumahku. Malam pulang, belajar di rumah. Habis itu kadang balik kembali ke mushola. Maklum dulu saat masih SD sering tidur di mushola. Biar paginya bisa ikut ngaji.
Masa-masa SD bagiku adalah yang paling sangat menyenangkan. Meski di desa belum ada listrik, tv masih hitam-putih, tapi tetap saja memberikan sebuah rasa tenang yang amat luarbiasa. Tiap malam aku selalu diberi nasehat dan dongeng-dongeng yang selama ini selalu aku ingat.
Tamat dari SD, aku melanjutkan Pesantren Madrasah Tsanawiyah Swasta di Air Hitam Laut (Kec. Sadu) yang dinamakan WALI PEETU, Karena sekolah tersebut tempatnya juga di Desa, suasana disini tidak terlalu asing menurutku, Cuma agak sedikit panas dari kampungku., tapi kalau subuh dinginnya luar biasa, karena memang Pondokku itu bisa dibilang tepi laut.
Jarak dari kampungku ke sekolah lumayan jauh. Sebenarnya ada yang dekat, cuma kualitasnya masih rendah, itu menurutku. Tapi besar harapan keluarga untuk melihatku menjadi orang yang berIlmu dan menjadi Manusia yang berguna untuk Desanya….Amin…
Sayangnya aku tidak seperti teman-temanku yang lain bisa selesai sampai dikukuhkan menjadi Ustadz dan Ustadzah, itu karena kenakalanku yang membuat aku harus meninggalkan Pondok Pesantren tercinta itu, sungguh Demi Allah, banyak sekali Ilmu yang aku dapatkan dari sana, itu terasa sekali waktu aku masuk perguruan tinggi di Jambi, IAIN Sulthan Thaha Saifuddin. Ingin…….rasanya kepondok lagi, tapi aku malu bertemu dengan Ustadz-Ustadz dan Pimpinan Pondok, karena masa laluku yang mungkin tidak bisa di maafkan, tapi indah untuk dikenang, hehehehe………
Tapi di sinilah juga kerinduanku semakin memuncak kalau sudah inget dengan masa lalu. Dari beberapa sms yang aku terima dari temen-temenku beberapa waktu lalu, kawan-kawan itu ternyata udah banyak yang menikah. Kurang ajar, padahal dulu kita udah janji kalau mau nikah bilang-bilang. Ironisnya, mereka udah ada yang punya anak, padahal mereka cantik-cantik loh, kalau untuk isteri, siiiiiiiiiiip lah….
Ini loh…
Darah-darah Muda Cantik



Satu anugerah besar bagiku. Jalan menuju ke Kota Roma memang cukup melelahkan. Tapi paling nggak rasa lelah itu untuk sementara waktu terbayar dengan apa yang aku capai sekarang. Apalagi di usiaku yang masih muda, aku diberi tanggungjawab menjadi Redaktur di dua tempatku bekerja.
Tapi, meskipun begitu, terus terang aku masih belum bisa puas dengan ini semua. Belajar…belajar…dan terus belajar. Itulah yang sekarang ini terus aku lakukan. masih banyak yang ingin aku gapai. Salah satunya bisa menjadi seorang penafsir al-Qur’an.
Jika diberi kesempatan untuk bisa kuliah lagi, tetap Tafsir Hadits menjadi pilihan utamaku. Bagiku, tak sekedar belajar masa lalu dan masa depan, tetapi lebih dari itu. Saat ilmu berpada dengan kekuasaan Sang Pencipta. Karen semua itu memiliki sebuah arti dan makna yang tak hanya melibatkan aku, tapi juga DIA yang di atas sana. Secara tidak langsung, aku bisa memandang bahwa ciptaan NYA memang benar-benar luarbiasa. Sekali lagi Luar Biasa.
Dan sekarang…? Aku sudah siap untuk tinggal landas. Mengarungi kehidupan dunia. Menuju proses hidup yang satu tingkat lebih tinggi dalam pemikiranku setahun yang lalu. Belajar untuk bersabar dan menerima dengan ikhlas atas semua pemberian-NYA.
Jangan lihat kesuksesanku sekarang, tapi lihat kesuksesanku 10 tahun yang akan datang Insya Allah. Saat aku sudah berkeluarga dan hidup bahagia. Amin……….
Sedikit biodataku :
Nama : Muhammad Taufiq
Tempat/tgl lahir : Simbur Naik, 13 04 1989
Pendidikan :       
1. SDN 28 Simbur Naik
2. MTS Wali Peetu Air Hitam Laut
3. Pondok Pesantren al-Mubarak Jambi-Seberang
4. MAS Bustanul Ulum Simbur Naik
5. S-1 IAIN Jambi dengan title S.Ud (Sarjana Ushuluddin)
6. S-2 Menyusul, hehe

Organisasi : 
1. Anggota HMI 2008
2. Ketua Bidang Pendidikan BEMAF Ushuluddin (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas) Ushuluddin.
3. Pemerintahan Mahasiswa USUHULUDDIN Tahun 2010
4. Pengurus KEPMI Tanjab Timur(Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesi) Tahun 2008
5. Pengurus Cabang IKAMI Sul-Sel (Ikatan Keluarga Mahasiswa/Pelajar Sulawesi Selatan) Jambi
6. Sekretaris Umum IKPMS (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Simbur Naik

Okay, cukup itu aja dulu ya….
Pesan yang harus aku ingat….
Perjalanan manusia yang begitu panjang…. Membawa setiap pertemuan dan perpisahan.. Hari ini aku bertemu… Dapat menikmati canda tawa, tangisan, dan kebersamaan… Namun seiring waktu berjalan… STAYING ALIVE AND SAY NO TO DRUGS Seseorang datang dan seseorang pergi…. Tiba waktunya bagi semua memikirkan tujuan masa depan… Tujuan hidup mereka ada ditangan mereka… Begitu juga tujuan hidupku, ada ditanganku

 
Diberdayakan oleh Blogger.