Apa
yang kalian lakukan saat marah? Mungkin ngomong langsung sama orangnya,
ngomong langsung apa yang ada di pikiran. Menyembur bagaikan peluru
dari AK 47. Cepat, tebas sana tebas sini, lalu diakhiri dengan dahi yang
mengerenyit dan roman muka yang (pastinya) tidak sedap dilihat.
Atau
mungkin kalian lebih dahsyat lagi. Selain mengeluarkan jurus
"menyembur" kata-kata, kalian juga beraksi fisik. Membanting pintu,
memecahkan gelas atau piring, melempar handphone, menampar, memukul,
menjambak, menendang, memutilasi, menyilet-nyilet mukanya, mendorongnya
ke jurang, memasukannya ke mesin penggiling padi. Aduh serem. Sepertinya
saya terpengaruh film SAW. Sorry.
Intinya, tidak sebatas kata-kata, tapi juga melakukan aksi fisik.
Manusia
itu emang lucu. Ga ada yang identik satu sama lain, bahkan anak kembar
sekalipun. Semua punya ciri khasnya masing-masing, termasuk dalam hal
marah.
Bagaimana dengan saya sendiri?
Saya
tidak termasuk dua tipe diatas. Saya kalau sedang marah cenderung diam.
Diam saja. Dingin. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak juga
melakukan aksi fisik, menampar misalnya. Tidak, tidak. Saya tidak akan
seperti itu. Saya diam saja. Menganggap sekeliling saya tidak ada
apa-apa. Saya mungkin bakal menghabiskan waktu dengan tidur, main game,
membaca, menulis, atau jalan-jalan keluar sendirian selama berjam-jam.
Saya tidak mau membuang waktu dengan marah-marah yang menyebarkan energi
negatif ke orang lain. Capek sendiri nantinya. Bisa-bisa keadaan malah
tambah buruk, dan muncul masalah lain yang lebih buruk. Lieur pan?
Saat
marah, saya mungkin seperti tulisan di rak barang pecah belah di toko:
"Pecah berarti membeli". Harus hati-hati. Karena kalau tidak, dari mulut
saya mungkin bakal menyemburkan api seperti naga. Api berupa kata-kata
sinis, sindiran dan sumpah serapah yang sama sekali tidak bermaksud
bercanda. Pasti bakal nyelekit. Sumpah, pasti malas berhadapan dengan orang seperti itu. Maka diamkan saja. Nanti juga kembali seperti biasa. High and low naturally. Jangan memaksa, karena segala yang dipaksakan tidak baik, bukan?
Pendendam
Saya
orangnya pendendam. Sulit memaafkan orang lain. Jadi, misalnya ada
seseorang yang sudah berbuat kesalahan besar menurut saya, saya bakal
sulit berhubungan seperti biasa lagi dengannya. Saya mungkin bakal
menganggap orang itu tidak ada, walau sebenarnya ada disamping saya.
Saya bakal menganggapnya dia hantu saja. Ada atau tidak, menampakkan
diri atau tidak, peduli amat. None of my business.
Yang
jelas saya bakal buat dia menyesal. Dengan apa? Dengan pembuktian diri
bahwa saya tidak seperti apa yang dia katakan, tidak seperti apa yang
dia anggap. Saya buktikan semua anggapan dia itu salah. Kalau sudah
berhasil membuktikan? Sorry, i really really don't care about you. Anything!
Tentu
tidak ke semua orang saya bisa jadi begitu pendendam. Keluarga,
saudara, pacar dan sahabat adalah pengecualian. Mereka adalah
orang-orang luar biasa, sehingga saya bakal tidak tega. Sebesar apapun
kesalahan mereka, saya belajar untuk memaafkan dan menyadari manusia
tidak ada yang sempurna.
Saya
sadar pendendam adalah salah satu sifat buruk saya. Semoga saja sifat
buruk ini bisa berkurang suatu hari, sehingga orang-orang yang berbuat
kesalahan besar, bisa dengan mudah dimaafkan. Semudah saya memaafkan
keluarga, saudara, pacar dan sahabat. Ya semoga saja.
***
Yaa...begitulah
saya. Ada pertanyaan? Kalau tidak, saya mau mengutip kata-kata
Socrates, "Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak
layak dijalani".
Jadi apa yang kalian lakukan saat marah? Nice to start discussion, isn't it?
*Oh ya, tentang saya yang lain juga bisa diliat disini.
0 komentar:
Posting Komentar