
Rokok ibarat teman setia yang tidak pernah mengeluh saat kita pusing dengan segala tuntutan yang ada. Disaat kita butuh me-refresh kembali pikiran- pikiran yang ruwet, rokok selalu ada. Singkatnya, rokok selalu bersikap manis dengan segala racunnya.
Bagaimana
jika kita terlahir sebagai sebatang rokok? Sepertinya sungguh sengsara.
Karena jika demikian, kita hanya dibutuhkan saat sedang pusing saja,
saat kita sendirian dan tidak ada kerjaan saja, saat kita butuh
pelampiasan atas rasa-rasa tidak enak yang kita alami saja. Ibarat tong sampah yang selalu dibuka saat hanya ingin membuang sesuatu yang kotor. Beruntung kita dilahirkan sebagai manusia, bukan rokok.
Barangkali bagi sebagian orang rokok itu memang teman, tapi bagi semua orang jelaslah teman itu bukan rokok !
Karena
pada kenyataannya, banyak orang yang menganggap teman hanyalah seperti
sebatang rokok. Dibeli dengan harta dan sesuatu yang bersifat material,
setelah itu disedot paksa untuk dimanfaatkan segala kebaikannya, lalu
kemudian dibuang begitu saja. Tidak cukup sampai disitu, setelah tidak
berdaya, kehormatannya pun diinjak- injak alas sepatu yang kotor. Tragis.
Ditulis oleh seorang perokok yang tidak menganggap teman layaknya rokok.
0 komentar:
Posting Komentar